A Pengertian dan Latar belakang munculnya Aliran Rekontruksionisme. 1.Pengertian Rekontruksionisme. Rekonstruksionisme berasal dari kata reconstruct, yaitu gabungan dari kata re- yang artinya kembali dan construct yang artinya membangun atau menyusun. Maka, secara etimologis reconstruct diartikan menyusun kembali. Sedangkan, dalam konteks
Latarbelakang munculnya filsafat :- Sejarah Filsafat- Penyebab munculnya Filsafat- Perkembangan Filsafat - Ceramah PENGERTIAN, SUMBER DASAR, DAN KEGUNAAN FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM Oleh : AKHSANUL HUDA Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Misbahul Ulum Gumawang Belitang OKU Timur A. Pendahuluan Filsafat pendidikan islam terbentuk dari
A Latar belakang Di antara problema besar yang dihadapi umat Islam di era modern adalah redupnya etos keilmuan di kalangan umat Islam dan munculnya dunia Barat sebagai penguasa ilmu pengetahuan dan teknologi. Filsafat pendidikan adalah filsafat yang diterapkan/diaplikasikan
1 LATAR BELAKANG MUNCULNYA FILSAFAT PENDIDIKAN BAB II 2. Filsafat diakui sebagai induk ilmu pengetahuan yang mampu menjawab segala pertanyaan dan permasalahan. Namun karena banyak permasalahan yang tidak dapat lagi dijawab leh filsafat, lahirnlah cabang ilmu pengetahuan lain yang membantu menjawab segala macam permsalahan tersebut.
A Latar Belakang Munculnya Aliran Esensialisme. Kedua ide filsafat itulah yang menjadi latar belakang thesis-thesis Essentialisme. Yang amat dominan dalam Essentialisme tidak hanya filsafat klasik tersebut. Praktek filsafat pendidikan essensialisme dengan demikian menjadi lebih kaya dibandingkan jika ia hanya mengambil posisi sepihak
LATARBELAKANG MUNCULNYA FILSAFAT PENDIDIKAN. Jalaluddin dan Idi, A. 2012. Filsafat Pendidikan: Manusia, Filsafat, dan Pendidikan. Jakarta: RajaGrafindo Persada Filsafat diakui sebagai induk ilmu pengetahuan (the mother of science) yang mampu menjawab segala pertanyaan dan permasalahan. Mulai dari masalahmasalah yang berhubungan dengan alam semesta hingga masalah manusia dengan segala
Latarbelakang muncul filsafat pendidikan Pentingnya filsafat pendidikan Filsafat pendidikan penting untuk mengarah kepada perbaikan, kemajuan, keteguhan dan dasar sistem pendidikan tidak akan tumbuh, berkembang, dan selaras dengan kemajuan tanpa pemikiran filsafat yang diiringi dengan pembaharuan daya cipta di dunia
JURUSANFILSAFAT & SOSIOLOGI PENDIDIKAN BAGIAN I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penyelenggaraan pendidikan sangat dipengaruhi oleh dinamika kebijakan yang terjadi dalam masyarakat. Dinamika kebijakan pendidikan tersebut tercermin dari aneka mulai dari munculnya Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1950 juncto Undang-Undang
FilsafatPendidikan dapat diartikan juga upaya mengembangkan potensi- potensi manusiawi peserta didik baik potensi fisik potensi cipta, rasa, maupun karsanya, agar potensi itu menjadi nyata dan dapat berfungsi dalam perjalanan hidupnya. Dasar pendidikan adalah cita-cita kemanusiaan universal.
LATARBELAKANG MUNCULNYA FILSAFAT PENDIDIKAN BAB I PENDAHALUAN Puji syukur bagi Allah yang maha kuasa, dengan berkat izin Allah yang maha pengasih dan maha penyanyang sehingga kita dapat menyelesaikan makalah ini.
mxEV. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Filsafat diakui sebagai induk ilmu pengetahuan the mother of sciences yang mampuh menjawab segala pertanyaan dan permasalahaan. Mulai dari masalah-masalah yang berhubungan dengan alam semesta hingga masalah manusia dengan segala problematika dan kehidupanya. Diantara permasalahan yang tidak dapat dijawab oleh filsafat adalah permasalahan yang ada dilingkungan pendidikan. Padahal menurut John Dewey, seorang filosof Amerika, filsafat merupakan teori umum dan landasan pertanyaan dan menyelidiki faktor-faktor realita dan pengalaman yang terdapat dalam pengalaman pendidikan Apa yang dikatakan John Dewey memang benar. Dan karena itu filsafat dan pedidikan memiliki hubungan hakiki dan timbal balik, berdirilah filsafat pendidikan yang berusaha menjawab dan memecahkan persoalal-persoalan pendidikan yang bersifat filosifis dan memerukan jawaban secara filosofis B. Rumusan masalah 1. Latar belakang munculnya filsafat pendidika? C. Tujuan penelitian 1. Untuk mengetahui bagaimana latar belakang munculnya filsafat pendidikan. BAB II PEMBAHASAN A. Latar Belakang Munculnya Filsafat Pendidikan Jika kita memperhatikan pemikiran orang barat yang membahas filsafat mereka sama sekali lepas dari apa yang dikatakan agama. Bagi mereka titik berat filsafat adalah mencari hikmah. Hikmah itu dicari untuk mengetahui suatu keadaan yang sebenarnya, apa itu, dari mana itu, hendak kemana, dan bagaimana. Namun pertayaan filosofis itu kalau diteruskan, akhirnya akan sampai dan berhenti pada sesuatu yang disebut agama. Baik filosofis Timur maupun barat mereka memiliki pandangan yang sama bila sudah sampai pada pertanyaanya â bilakah permulaan yang ada ini , dan apakah yang sesuatu yang pertama kali terjadi, apakah yang terakhir sekali bertahan didalam iniâ Rifai, 1994 67. Akan tetapi mereka akan mencari hikmah yang sebenarnya supaya sampai puncak pengetahuan yang tinggi, yaitu Tuhan Yang Maha Mengetahui dan Mahakuasa. B. Perkembangan pemikiran filsafat spiritualisme kuno Dari uraian diatas dapat diketahui filsafat mulai berkembang dan berubah fungsi, dari sebagai induk ilmu pengetahuan menjadi semacam pendekatan perekat kebali sebagai ilmu pengetahuan yang telah berkembang pesat dan terpisah satu dengan lainnya. Jadi, jelaslah bagi kita bahwa filsafat berkembang sesuai perputaran zaman. Paling tidak, sejarah filsafat lama membawa manusia untuk mengetahui cerita dalam katagori filsafat spiritualisme kuno. Kira-kira 1200-1000 SM sudah terdapat cerita-cerita lahirnya zarathusthra, dari keluarga sapitama, yang lahir ditepi sebuah sungai, yang ditolong oleh ahura Mazda dalam masa pemerintahaan raja-raja akhamania 550-530 SM. Timur jauh Yang termasuk dalam wilayah timur jauh ialah Cina India dan jepang. Di India berkembang filsafat spiritualisme, Hinduisme, dan Buddhisme. Sedangkan di Jepang berkembang shintoisme. Begitu juga di Cina berkembang, Taoisme, dan Komfusianism.[1] a. Hinduisme Pemikiran spiritualisme Hindu adalah konsep karma yang berarti setiap individu telah dilahirkan kembali secara berulang dalam bentuk manusia atau binatang sehingga ia menjadi suci dan sempurna sebagai bagian dari jiwa universal reingkarnasi . Karma tersebut pada akhirnya akan menemukan status seseorang sebagai anggota suatu kasta. Poedjawijatna 198654 mengatakan, bahwa para filosof Hindu berpikir untuk mencari jalan lepas dari ikatan duniawi agar bisa masuk dalam kebebasan yang menurut mereka sempurna. b. Buddha Pencetus ajaran Buddha ialah Sidarta Gautama Kira-kira 563-483 SM sebagai akibat ketidakpuasannya terhadap penjelasan para guru Hindu isme tentang kejahatan yang sering menimpa manusia. Setelah melakukan hidup bertapa dan meditasi selama 6 tahun, secara tiba-tiba menemukan gagasan dan jawaban dari pertanyaannya. Gagasa-gagasan itulah yang kemudian menjadi dasar-dasa agama Buddha samuel Smith, 198612 . Filsafat Buddha berkeyakinan bahwa segala sesuatu yang ada di Dunia ini terliputi oleh sengsara yang disebabakan oleh âCintaâ terhadap suatu yang berlebihan. c. Taoisme Pendiri Taoisme adalah Leo Tse, Lahir pada tahun 604 SM. Tulisannya yang mengandung makna Filsafat adalah jalan tuhan atau sabda tuhan, Tao ada dimana-mana tetapi tidak berbentuk dan tida pula diraba, dilihat,dan di dengar. Manusia harus hidup selaras dengan tao, dan harus bisa menahan hawa nafsunya sendidi. Pengertian Tao dalam filsafat Lao Tse tersebut dapat dimasukan dalam aliran spiritualisme. Dan menurut aliran-aliran filsafat India dan Tiongkok, spirirtualisme itu berkaitan dengan Etika, karena ia memberi petunjuk bagaimana manusia mesti bersikap dan bertindak di dunia agar memperoleh bahagia dan kesempurnaan ruh Gazalba198660 d. Shinto Shinto merupakan salah satu kepercayaan yang banyak dipeluk masyarakat Jepang. Agama Shinto tumbuh di jepang yang sangat respek terhadap alam natural di sebabkan ajaran-ajaranya mengadung nilai antara lanin kreasi SOZO, generasi size, pembangunan hatten, sehingga ia menjadi jalan hidup dan kehidupan dan mengandung nilai optimis. Melihat ajaran-ajaran pokok moral Shinto yang mengandung makna filsafat yang tinggi diatas, maka tidalah berlebihan jika ajaran-ajaranya mengandung nilai motivasi dan optimistik guru menjadi pegangan bagi penganutnya 1. TimurTengah Yahudi berasal dari nama seorang putra yaâkub, yahuda. Putra ke empat dari 12 bersaudar, 12 orang inilah yang kelak menjadi nenek moyang bangsa yahudi yang dinamakan bangsa Israel, agama yahudi pada prinsipnya sama dengan Agama nasroni dan Agama islam, karena itu Agama Yahudi disebut juga Agama kitab samawi , yang berarti agama yang mempunyai kitab suci dari Nabi. Pemikiran-pemikiran fisafat timur tengah muncul sekitar 1000-150 SM. Tanda-tanda yang tempat keberadaan pemikiran filsafat itu ialah adanya penguraian tentang bentuk-bentuk penindasan moral dari monotiesme, peredaran, kebenaran dan bernilai tinggi. Selama dua ribu tahun yang lalu dokrtin-doktrin monotiesme dan pengajaran tentang etnis yang di anggap penting dari kaum Yahudi, yang di kembangkan oleh Nabi musa dan para Nabi Elijah. Pendidikan di mulai guna mengangkat martabat dan pengharapan kemanusiaan pada masa depan Smith, 19864 pengikutnya agama Kristen pada waktu itu tidak ubahnya seperti penganut agama lainnya, yaitu dari golongan rakyat jelata. Setelah berkembang, pengikutnya merabah kekalangan atas, ahli fikir filosof , dan kemudian para pemikir atas kemajuannya, zaman ini disebut zaman patristic. Pater berarti bapa, yaitu para bapak gereja. zaman patristik adalah zaman rasul pada abad pertama , sampai abad kedelapan. Para filosofis Kristen pada masa itu mempunyai identitas yang berpariasi dan mempunyai banyak aliran. Antromornisme merupakan suatu paham yang menyamakan sifat-sipat Tuhan pencipta dengan sifat-sifat manusia yang di ciptakan . Misalnya tentang tuhan di samakan dengan tangan manusia. Paham ini muncul zaman patristic dan skolastik, pada akhir zaman kuno atau zaman pertengahan filsafat barat di pengaruhi oleh pemikiran Kristian. Aliran-aliran filsafat yang memepunyai pengaruh sangat besar di roma adalah, pertama, epistimologi, yang di motori oleh epicurus 341-270 . Epicurus mengatakan bahwa rasa suka dimiliki apabila hidup secara relevan dengan alam manusia. Sementara rasa duka merupakan yang terburuk dan patut di hindari. Kedua, aliran stoa, yang dipelopori oleh zani 336-246 . Aliran mempunyai pendapat bahwa adanya kebajikan itu apa bila manusia hidup sesuai dengan alam Poedjawi jatna, 198622 â Dalam sejarah, filsafat Yunani dipakai sebagai penangkal sejarah filsafat barat. Dikatakan pangkal karena dunia barat dalam alam pemikiran mereka berpangkal pada pemikiran Yunani. Di Yunani sejak sebelum permualaan tahun masehi, ahli-ahli piker mecoba menarik teka-teki alam, mereka ingin mengetahui asal mula alam serta dengan isinya. Pada masa itu terdapat keterangan-keterangan mengenai proses terjadinya alam semesta dan isinya, semua keterangan tersebut sebatas kepercayaan semata. C. Reaksi Terhadap Spritualisme Di Yunani Spritualisme merupakan suatu aliran filsafat yang mementingkan keruhanian, lawan dari materialisme Poerwadarmita 1984963 . Namun demikian, ternyata ada beberapa filosof yang merasa kurang puas dengan aliran spritualisme, mereka menganggap aliran ini tidak sesuai dengan ilmu pengetahuan ilmiah. Maka lahirlah aliran materialism. Diantara tokonya adalah Leukipos dan Demokritus 460-370 SM , yang menyatakan bahwa semua kejadian alam adalah atom, dan semuanya adalah materi. Kemudian, lahirlah pula aliran rasionalisme Rane Descrates, yang menyatakan bahwa pusat segala sesuatu terletak pada dunia ratio, semesta yang lain adalah objeknya. Tokoh aliran idealism adalah plato 427-372 SM . Ia adalah murid Socrates. Aliran idealism merupakan suatu aliran filsafat yang menggagungkan jiwa. Menurut aliran ini, cinta adalah gambaran asli yang bersifat ruhani dan jiwa terletak di antara gambaran asli Suryadipura, 1994 133 . Dari pertemuan jiwa dan cinta lahirlah suatu angan-angan yaitu dunia idea. Aliran ini memandang dan menganggap yang nyata hanyalah idea. Idea selalu tetap tidak mengalami perubahan dan pergeseran yang mengalami gerak tidak di kategorikan idea poedjawijatna,198723. Disi lain filsafat idealism plato banyak memberikan pengaruh dan sumbangan dalam dunia pendidikan. Menurut plato, pendidikan itu sangat perlu baik bagi dirinya selaku individu maupun sebagai warga Negara. Setiap peserta didik harus diberi kebebasan untuk mengikuti ilmu yang ada sesuai dengan bakat, minat, dan kemampan masing-masing sesuai jenjang usianya. Pendidikan itu sendiri akan memberikan dampak perubahan bagi kehidupan pribadi, bangsa Negara. Merupakan aliran filsafat yang berisikan tentang ajaran kebendaan, aliran ini, benda merupakan sumber segalanya poerwadarminta, menurut 1984683 , aliran ini berpikiran sederhana, bahkan segala sesuatu yang ada di dalam ini dapat di lihat dan di observasi, baik wujudnya, gerakanya maupun peristiwa-peristiwanya. Tokoh-tokoh aliran materialisme diantaranya adalah Leukipos dan Demokritus 460-370 SM . Mereka berpendapat bahwa kejadian seluruh alam terjadi karena atom kecil, yang menpunyai bentuk dan bertubuh, jiwa pun dari atom kecil yang mempunyai bentuk bulat dan mudah bereaksi untuk mengadakan gerak suryadipura, 1994130 . Atom tersebut membentuk satu kesatuan yang di kuasai oleh hukum-hukum fisis kimiawi, dan atom-atom yang tertinggi nilainya dapat membentuk manusia, dan kemungkinan yang dimiliki manusia tidak melampaui kemungkinan kombinasi-kombinasi atom. Oleh karena itu, tidak melampai potensi-potensi jasmani, karena keduanya memiliki sumber yang sama. Demikian juga dengan keberakhiran atau kematian, disebabkan karena hancurnya struktur atom-atom pelemburan dan kombinasi atom-atom yang ada pada manusia atau alam lainnya. Pelopor aliran rasionalisme adalah Rane Descrates 1595-1650 . Ia juga penggerak dan pembaru pemikiran modern abad ke-17 selama 198878 . Menurutnya, sumber pengatahuan yang dapat di jadikan patokan dan dapat di uji kebenaranya adalah rasio, sebab pengetahuan yang berasal dari proses akal dapat memenuhi syarat-syarat ilmiah. Dengan demikian akal di anggap sebagai perantara khusus untuk menentukan kebenaran dalam ilmu pengetahuan. Hal senada juga dinyatakan filosof Blaise Pascal 1632-1662 , bahwa akal adalah tumpuan utama dalam menjalani pengetahuan untuk menemukan kebenaran dan dapat memberikan kemampuan dalam menganalisis bahan objek . Tetapi disis lain, akal tidak dapat menemukan pengertian yang sempurna tanpa ada keterkaitan dengan pengalaman. Karena dalam mengambil suatu keputuasan yang berfungsi tidak saja akal, tetapi hati juga turut menentukan. D. Pemikiran Filsafat Yunani Kuno Hingga Abad Pertengahan Suatu pandangan teroritis itu mempunyai hubungan erat dengan lingkungan di mana pemikiran itu di jalankan, begitu juga lahirnya filsafat yunani pada abad ke-16 SM. Bagi orang yunani, filsafat merupakan ilmu yang meliputi semua pengetahuan ilmiah. Di yunanilah pemikiran ilmiah mulai tumbuh, terutama di bidangfilsafatpenidikan. Pada masa ini, keterangan-keterangan mengenai alam semesta dan penghuninya masih berdasarkan kepercayaan. Dan karena para filsuf belum puas atas keterangan itu, akhirnya mereka mencoba mencari keterangan melalui budinya. Misalnya dengan menanyakan dan mencari jawaban tentang apakah sebetulnya ala mini? Apakah intisari alam arche ini. Arche berasal dari bahasa yunani yang berarti mula, asal. Oleh karena itu filsuf-filsuf berusaha mencari inti alam, maka mereka di sebut filsuf alam dan filsafat mereka disebut filsafat alam. Masa pra-socrates di warnai pula oleh munculnya kaum sofisme. Kaum sopis ini pertama kali di Athena. Sofis berasal dari kata sofhos yang beati cendikiawan. Sebutan ini semula diberikan kepada orang-orang pandai ahli filsafat, ahli bahasa, dan lain-lain. Aliran sofis dipelopori oleh protogoras. Menurut kaum sofis, manusia menjadi ukuran kebenaran tidak ada kebenaran yang berlaku secara universal, kebenaran hanya berlaku secara individual. Kebenaran itu menurut saya, dan retorika merupakan alat utama utuk memepertahankan kebenaran salam, 1982107. Dalam sejarah kaum sofis adalah kelompok yang pertama kali mengorganisasi pendidikan kaum muda. E. Pemikiran filsafat pendidikan menurut Socrates 470-399 SM Dalam sejarah filsafat, Socrates adalah salah seorang pemikir besar kuno yang gagasan filosofis dan metode pengajaraanya sangat mempengaruhi teori dan praktik pendidikan di seluruh dunia barat. Socrates lahir di Athena, merupakan putra seorang pemahat dan seorang bidan yang tidak begitu di kenal, yaitu Sophonicus dan Phaenarete smith,198619 . Prinsip dasar pendidikan, menurut Socrates adalah metode dialektis. Meode ini di gunakan Socrates sebagai dasar teknis pendidikan yang di rencanakan untuk mendorong seseorang berpikir cermat, untuk menguji coba diri sendiri dan untuk memperbaiki pengetahuannya. Seorang guru tidak boleh memaksakan gagasan-gagasan atau pengetahuannya kepada seorang siswa, karena seorang siswa di tuntut untuk bisa mengembangkan pemikirannya sendiri dengan berpikir secara keritis. Metode ini tidak lain di gunakan untuk meneruskan inelektualitas, mengembangkan kebiasaan-kebiasaan dan kekuatan mental seseorang. Dengan kata lain, tujuan pendidikan yang benar adalah untuk merangsang penalaran yang cermat dan di siplin mental yang akan menghasilkan perkembangan intelektual yang terus menerus dan sestandar moral yang tinggi Smith. 198625 . F. Pemikiran filsafat pendidikan menurut Plato 427-347 SM Plato dilahirkan dalam keluraga aristrokrasi di Athena, serikat 427 SM. Ayahnya Ariston, adalah keturunan dari raja pertama Athena yang pernah berkuasa pada abad ke-7 SM. Semnentara ibunya, periction adalah keturunan keluarga solon, seorang pembuat undang-undang, penyair, memimpin militer dari kaum ningrat dan pendiri demokrasi Athena termuka smith, 198629. Menurut plato, pendidikan itu sangat perlu, baik bagi dirinya selaku individu maupun sebagai warga Negara. Negara wajib memberi pendidikan kepada setiap warga negaranya. Namun demikian, setiap peserta didik harus diberi kebebasan untuk mengikuti ilmu sesuai bakat, minat, dan kemampuan masing-masing jenjang usianya. Sehingga pendidikan itu sediri memberikan dampak dan perubahan bagi kehidupan pribadi, bangsa, dan Negara. Menurut plato, idealnya dalam sebuah Negara pendidikan memperoleh tempat yang paling utama dan mendapatkan perhatian yang yang sangat mulia, maka ia harus di selenggarakan oleh Negara. Karena pendidikan itu sebenarnya merupakan suatu tidakan pembebasan dari belenggu ketidaktahuan dan ketidakbenaran. Dengan pendidikan, orang-orang akan mengetahui apa yang benar dan apa yang tidak benar. Dengan pendidikan pula, orang-orang akan mengenal apa yang baik dan apa yang jahat, apa yang patut dan apa yang tidak patutRaper,1988110. G. Pemikiran filsafat pendidikan menurut Aristoteles 367-345 SM Aristoteles adalah murid plato. Dia adalah seorang cendikiawan dan intelek terkemuka, mungkin sepanjang masa. Umat manusia telah berutang budi padanya oleh karena banyaknya kemajuan pemikiranya dalam filsafat dan ilmu pengetahuan, khususnya logika, politik, etika, biologi, dan psikologi. Aristoteles lahir tahun 394 SM, di Stagira, sebuah kota kecil di semenanjung Chalcidice di sebelah barat laut Egea. Ayahnya, NIchomachus adalah dokter perawat Amyntas II, raja Macedonia, dan ibunya, phaesta mempunyai nenek moyang terkemuka. Menurut Aristoteles, agar orang bisa hidup baik maka ia harus mendapatkan pendidikan. Pendidikan bukanlah soal akal semata-mata, melainkan soal memberi bingbingan kepada perasaan-perasaan yang lebih tinggi,yaitu akal, guna mengatur nafsu-nafsu. Akal sendiri tidak berdaya, sehingga ia memerlukan dukungan perasaan yang lebih tinggi agar di arahkan secara benar. BAB III PENUTUP Simpulan Dari pemaparan di atas dapat di simpulkan bahwa filsafat mulai berkembang dan berubah fungsi, dari sebagai induk ilmu pengetahuan menjadi semacam pendekatan perekat kebali sebagai ilmu pengetahuan yang telah berkembang pesat dan terpisah satu dengan lainnya. Jadi, jelaslah bagi kita bahwa filsafat berkembang sesuai perputaran zaman. Paling tidak, sejarah filsafat lama membawa manusia untuk mengetahui cerita dalam katagori filsafat spiritualisme kuno. Kira-kira 1200-1000 SM sudah terdapat cerita-cerita lahirnya zarathusthra, dari keluarga sapitama, yang lahir ditepi sebuah sungai, yang ditolong oleh ahura Mazda dalam masa pemerintahaan raja-raja akhamania 550-530 SM jauh Yang termasuk dalam wilayah timur jauh ialah Cina India dan jepang. Di India berkembang filsafat spiritualisme, Hinduisme, dan Buddhisme. Dalam sejarah filsafat, Socrates adalah salah seorang pemikir besar kuno yang gagasan filosofis dan metode pengajaraanya sangat mempengaruhi teori dan praktik pendidikan di seluruh dunia barat. Socrates lahir di Athena, merupakan putra seorang pemahat dan seorang bidan yang tidak begitu di kenal, yaitu Sophonicus dan Phaenarete smith,198619 . Prinsip dasar pendidikan, menurut Socrates adalah metode dialektis. Meode ini di gunakan Socrates sebagai dasar teknis pendidikan yang di rencanakan untuk mendorong seseorang berpikir cermat, untuk menguji coba diri sendiri dan untuk DAFTAR PUSTAKA Salahudin, Anas. 2011. Filsafat Pendidikan. Bandung Pustaka Setia. Kaderi, M. Alwi. 2011. Filsafat Pendidika. Banjarmasin Antasari Press. Jalaluddin, dan Abdullah Idi. 2012. Filsafat Pendidikan Manusia, Filsafat, dan Pendidikan. Cet. Ke-2. Jakarta RajaGrafindo Persada. Jalaluddin, dan Said Usman. 1994. Filsafat Pendidikan Islam Konsep Pengembangan Dan Pemikirannya. Jakarta Raja Grafindo Persada. Hermawan, A. Haris. 2009. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta Direktorat Jendral Pendidikan Islam Departemen Agama RI. [1] Hermawan, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta Direktorat Jendral Pendidikan Islam, Departeman Agama RI,2009, hal40.
MAKALAH LATAR BELAKANG TIMBULNYA KAJIAN FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM Disusun Sebagai TugasKelompok Mata Kuliah FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM Dosen Pengampu Syarnubi, Disusun Oleh Kelompok 1 Adela Destri 1532100073 Adi Febi Hidayat 1532100074 Berenda Permata Sari 1532100093 Dewi Shintawati 1532100103 UNIVERSITAS ISLAM NEGERI RADEN FATAH PALEMBANG FAKULTAS ILMU TARBIIYAH DAN KEGURUAN PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM TAHUN AJARAN 2015/2016 KATA PENGANTAR Assalamuâalaikum Wr. Wb. Puji syukur dipanjatkan ke hadirat Allah Swt, karena berkat taufik dan hidayahnya, kami dapat menyelesiakan makalah ini. Salawat serta salam semoga tetap senantiasa tercurah untuk junjungan kita Nabi Muhammad Saw. Beserta keluarga dan sahabatnya, diiringi dengan upaya meneladani akhlaknya yang mulia. Kami sampaikan bahwa pembuatan makalah ini untuk memenuhi mata kuliah Filsafat Pendidik Islam dalam perspektif latar belakang munculnya filsafat Pendidikan, dan kami ucapakan terima kasih kepada bapak dosen sudah memberikan kesempatan kepada kelompok kami dalam menyusun makalah ini tersebut. Sehubung dengan pembuatan makalah ini tentu banyak sekali kekurangan-kekurangan untuk itu kami sangat mengharapkan atas saran, kritik, dan masukan dan sebagainya sangat kami harapkan hal tersebut agar dapat memperbaiki kesalahan kami untuk lebih baik lagi. Akhirnya doâa kami panjatkan semoga upaya kita lakukan ini mendapat ridha Allah Swt, dan menjadi amal ibadah bagi kita semua. Amin. Wassalamuâalaikum Wr. Wb. Palembang, 21 Maret 2016 Penulis D. Perkembangan pemikiran Filsafat Pendidikan Islam........................... ......12 BAB I PENDAHULUAN Mempelajari Filsafat Pendidikan Islam berarti memasuki arena pemikiran yang mendasar, sistematis, logis, dan menyeluruh universal tentang pendidikan, yang tidak hanya dilatarbelakangi oleh ilmu pengetahuan agama Islam, melainkan menuntut kita untuk mempelajari ilmu-ilmu yang lain. Melakukan pemikiran filosofis pada hakikatnya adalah menggerakkan semua potensi psikologis manusia seperti pikiran kecerdasan, kemauan, perasaan, ingatan serta pengamatan panca indra tentang gejala kehidupan, terutama manusia dan alam sekitarnya sebagai ciptaan Tuhan. Seluruh proses pemikiran tersebut didasari pengalaman yang mendalam serta luas tentang masalah kehidupan, kenyataan dalam alam raya, dan dalam dirinya sendiri. Sebagai hasil pemikiran bercorak khas Islam, pada hakikatnya adalah konsep berpikir tentang kependidikan yang bersumber atau berlandaskan ajaran agama Islam, tentang hakikat kemampuan manusia untuk dapat dibina dan dikembangkan serta dibimbing menjadi manusia muslim. Bila dilihat dari fungsinya, maka filsafat pendidikan Islam merupakan pemikiran yang mendasar yang melandasi dan mengarahkan proses pelaksanaan pendidikan Islam. Oleh karena itu, filsafat ini juga memberikan gambaran tentang latar belakang timbulnya filsafat Pendidikan Islam masih dalam aspek fungsional, filsafat pendidikan Islam juga bertugas melakukan kritik-kritik tentang metode-metode yang digunakan dalam proses pendidikan Islam itu sendiri sekaligus memberikan Pengarahan mendasar bagaimana metode tersebut harus didayagunakan atau diciptakan agar efektif untuk mencapai tujuan. Adapun latar belakang timbulnya filsafat pendidikan yang sebenarnya bercikal bakal dari filsafat itu sendiri. Sehingga perlu bagi kami mengangkat sebuah judul makalah âlatar belakang timbulnya kajian pendidikan Islamâ agar kita mengetahui bagaimana lahir dan berkembangnya filsafat pendidikan Islam yang mudah-mudahan dapat menambah perbendaharaan tentang sejarah filsafat pendidikan Islam dan bermanfaat bagi kami juga kita semua. Aamiin. 1. Apa pengertian Filsafat Pendidikan Islam? 2. Apa yang melatar belakangi timbulnya kajian Filsafat Pendidikan Islam? 3. Perkembangan pemikiran Filsafat Pendidikan ? 4. Perkembangan Filsafat Pendidikan Islam ? 1. Hanya membahas Pengertian Pendidikan Islam 2. Hanya membahas tentang apa yang melatar belakangi kajian Filsafat Pendidikan Islam 3. Hanya membahas perkembangan pemikiran Filsafat Pendidikan 4. Hanya membahas Perkembangan Filsafat Pendidikan Islam BAB II PEMBAHASAN Dengan segala tingkat karena dengan memahami filsafatnya, orang akan dapat mengembangkan secara konsisten ilmu-ilmu pengetahuan yang di pelajari. Filsafat mengkaji dan memikirkan hakikat segala sesuatu secara menyeluruh, sistematis, terpadu, universal, dan radikal, yang hasil nya menjadi pedoman dan arah dari perkembangan ilmu-ilmu yang bersangkutan. Untuk menyelesaikan masalah kependidikan, ada tiga disiplin ilmu yang membantu filsafat pendidikan yaitu Jika kita memperhatikan pemikiran orang barat yang membahas filsafat mereka sama sekali lepas dari apa yang dikatakan agama. Bagi mereka titik berat filsafat adalah mencari hikmah. Hikmah itu dicari untuk mengetahui suatu keadaan yang sebenarnya apa itu, dari mana itu, hendak kemana, dan bagaimana. Namun pertayaan filosofis itu kalau diteruskan, akhirnya akan sampai dan berhenti pada sesuatu yang disebut agama. Baik filosofis Timur maupun Barat mereka memiliki pandangan yang sama bila sudah sampai pada pertanyaanya â bisakah permulaan yang ada ini , dan apakah yang sesuatu yang pertama kali terjadi, apakah yang terakhir sekali bertahan didalam iniâ. Akan tetapi mereka akan berusaha. Untuk mencari hikmah yang sebenarnya supaya sampai puncak pengetahuan yang tinggi, yaitu Tuhan Yang Maha Mengetahui dan Mahakuasa.[5] Di antara permasalahan yang tidak dapat dijawab oleh filsafat adalah permasalahan yang terjadi di lingkungan pendidikan. Padahal menurut John Dewey, seorang filsuf Amerika, filsafat merupakan teori umum dan landasan dari semua pemikiran mengenai pendidikan. Tugas filsafat adalah mengajukan pertanyaan-pertanyaan dan menyelidiki faktor-faktor realitas dan pengalaman yang banyak terdapat dalam lapangan pendidikan[6]. Salah satu masalah atau persoalan yang terjadi dalam era pendidikan ialah analisis terhadap berbagai metode, pendekatan, dan produk-produk pemikiran sejak era klasik hingga abad modern. Konsep-konsep normatif Islam yang terdapat dalam kedua sumber Islam yakni Al-Qurâan dan Sunnah, merupakan sumber sebagai paradigma dalam memotret segala persoalan. Beragam pemaknaan yang dilakukan oleh para ilmuwan muslim terhadap kedua sumber fundamental Islam tersebut sehingga melahirkan puspa ragam wacana keagamaan, sosial, ekonomi, politik, budaya, dan bahkan membentuk peradapan pada zaman klasik Islam[7]. Pendidikan islam dipengaruhi oleh multifikator, kondisi, dan problem yang kompleks. Maju mundurnya teori dan praktik pendidikan islam diakibatkan oleh komplektifitas problem tersebut. Problem dimaksud berupa segala persoalan yang inhern dalam pendidikan, yakni problem internal, maupun berada di luar jangkauan bidang pendidikan, yakni problem eksternal yang secara tak langsung berpengaruh, seperti masalah pengangguran, kemiskinan, etos kerja, stabilitas politik, lemahnya penegakkan hukum dan lain-lain terkait dengan bidang hukum, sosial, ekonomi, dan eksternal ini amat rumit dan karena keterbatasan ruang, maka analisi problem pendidikan islam yang hendak diuraikan dalam tulisan ini difokuskan pada problem internal saja[8]. Problem internal yang dihadapi oleh pendidikan islam meliputi lemahnya visi atau tidak jelasnya arah pendidikan yang dilaksanakan, penekanan yang tidak seimbang antara pembentukan kepribadaan yang utama dalam diri seorang muslim dengan peranan sosialnya ditengah umat, di mana hal ini menyebabkan timbulnya kesalahan individual dan mengesampingkan tekologi yang dianggapnya tidak ada hubungan sama sekali dengan kesalehan dan ketaqwaan. Problem paradigma berpikir normatif-deduktif masih lazim dijumpai dalam pendidikan islam secara umum, bukan hanya di indonesia, tetapi juga di negara-negara islam lainnya.[9] , tetapi juga di negara-negara islam lainnya. Berikut ini adalah penjelasannya 1. Lack Of Vision Ismail Raji al-Faruqi menilai bahwa problem yang belum terselesaikan dari gejala rendahnya standar kelembagaan di dunia islam adalah konsekuensidari lemahnya visi ini. Lemahnya visi ini menyebabkan mereka sebagai alat jiplakan. Secara tak sadar, materi dan metodologi tanpa spirit ini terus menerus menimbulkan proses de-Islamisasi yang memengaruhi para pelajar dengan anggapannya bahwa hal tersebut merupakan pendidikan Islam alternatif, atau sebagai agen perubahan dan modernisasi. 2. Kesalehan Individual dan Ketertinggalan Teknologi Penyempitan makna kepribadian menimbulkan dampak yang besar atas sikap mereka terhadap sains dan teknologi. Seolah-olah sains dan teknologi tidak ada kaitannya dengan kesalehan dan ketakwaan. Padahal, justru di bidang dengan negara-negara lain. Sampai saat ini umat Islam masih jauh tertinggal dengan negara-negara lain dalam hal ini ilmu teknologi modern praktis di semua penganut agama besar di muka bumi ini, para pemeluk Islam adalah yang paling rendah dalam sains dan teknologi. 3. Problem Epistemologis Dikotomi Ilmu Akibat berangkai dari pola pikir pendidikan yang dikotomis ini adalah terjadi disharmoni relasi antara pemahan ayat-ayat ilahiah dengan ayat-ayat kauniyah, antara iman dengan ilmu, antara ilmu dengan amal, antara dimensi duniawi dengan ukhrawi, dan relasi antara dimensi ketuhanan teosentris dengan kemanusiaan antroposentris. 4. Tradisi Berpikir Normatif-Deduktif Bilamana pendidikan Islam dewasa ini lebih mengarah pada pola mengajar tersebut, maka dampaknya bisa dirasakan pada proses dan hasilnya. Proses pengajaran agama Islam cendrung dilaksanakan dalam bentuk hafalan dan penguasaan materi sebanyak-banyaknya. Bergesernya praktik pendidikan menjadi lebih identik dengan mengajar ini menimbulkan penekanan yang tidak seimbang pada aspek pengetahuan kognitif semata[10]. Namun, justru dengan melakukan kajian secara historis-sosiologis terhadap berbagai pemikiran Islam dengan sumber Al-Qurâan dan Sunnah Nabi, dapat ditemukan sejumlah kendala atau problematika bagi kemajuan umat Islam secara umum dan khususnya pula bagi kemajuan dalam dunia pendidikan Islam. Para sejarahwan filsafat percaya bahwa pemikiran paling kuno yang murni atau sebagian besarnya filosofis yang berasal dari kalangan Yunani, kira-kira enam abad yang lalu. Para sejarahwan juga menyebutkan nama-nama mereka yang berupaya mengenal wujud, permulaan dan keberakhiran alam raya. Socrates dialah orang yang menamai dirinya dengan philosophus, pecinta kebijaksaaan. Ungkapan ini lantas di Arabkan menjadi failasuf dan darinya pula kata falsafah diambil. Sejak pertama kali Socrates menyebut dirinya sebagai filosof, dan istilah filsafat digunakan semenjak itu[11]. Filsafat dan pendidikan memiliki hubungan hakiki dan timbal balik, maka berdirilah filsafat pendidikan yang berusaha menjawab dan memecahkan persoalan-persoalan pendidikan yang bersifat filosofis dan memerlukan jawaban secara filosofis pula. Dengan kata lain, kemunculan filsafat pendidikan ini disebabkan banyaknya perubahan dan permasalahan yang timbul di lapangan pendidikan yang tidak mampu dijawab oleh ilmu filsafat. Ditambah dengan banyaknya ide-ide baru dalam dunia pendidikan yang berasal dari tokoh-tokoh filsafat Yunani[13]. Tanpa sikap kritis untuk memisahkan mana yang baik dan mana yang buruk. Jadi ada sikap terhadap tradisi dalam konsep tradisonalitas. Namun tradisi, belum tentu semua unsurnya tidak baik, maka harus dilihat dan diteliti mana yang baik untuk dipertahankan dan diikuti. Sikap tradisionalitas itulah salah satu faktor penyebab munculnya ilmu-ilmu filsafat pendidikan islam mengalami kemajuan dari tradisi tradisional ke modern dalam dunia pendidikan Islam, yang mana masalahnya yang bercorak hanya bersifat penghafalan, pengulangan, dan komentar-komentar terhadap pendidikan Islam[14]. Sehingga perlunya pembaharuan di bidang metode dan pendekatan pendidikan Islam, yaitu beralih dari metode mengulang-ulang dan mengahafal pelajaran ke metode memahami dan manganalisis. Selama ini, sistem pendidikan Islam lebih cenderung berkonsentrasi pada buku-buku ketimbang subjek. Peserta didik hanya belajar menghafal, bukan mengelolah pikiran secara kreatuf. Sehubungan dengan praktik ini, pertumbuhan konsep pengetahuan menjadi rusak. Ilmu pengetahuan bukan merupakan sesuatu yang kreatif, melainkan sesuatu yang diperoleh, karena itulah metode menghafal harus diganti dengan metode memahami dan menganalisis secara krisis-konstruktif[15]. Sehingga itulah kajian filsafat pendidikan Islam muncul untuk menjawab persoalan atau permasalahan atau pendapat-pendapat baru yang terjadi dari era kependidikan mulai dari masalah metode, pendekatan, komentar-komentar dll, karena filsafat berpikir dan mencari solusi untuk mengatasi masalah tersebut khususnya masalah didalam pendidikan Islam. C. Perkembangan Pemikiran Filsafat Pendidikan Dalam sejumlah literatur yang membahas tentang filsafat dijelaskan, bahwa filsafat berkembang dari munculnya kesadaran manusia terhadap potensi dirinya, khususnya akal budi. Awal pemikiran filsafat muncul sebagai reaksi terhadap kungkungan mitologi, dimana manusia dibelenggu oleh kepercayaan bahwa kehidupan alam dikuasai yang dimunculkan oleh mitos[16]. Penelitian merupakan bagian dari upaya manusia untuk menemukan apa yang disebut kebenaran. Sementara kebenaran itu telah ada sebelum manusia itu ada. Ia berada diluar alam manusia. Kebenaran itu sendiri bukanlah sesuatu yang statis melainkan terus berkembang. Dorongan ingin tahu yang ada pada dirinya, selalu mendorong manusia untuk terus mengembangkan âpencaharianâ tersebut[17]. Dengan demikian, upaya untuk menemukan kebenaran itu sendiri merupakan aktivitas tanpa henti. Perkembangnya filsafat itu sendiri berkembang saat munculnya kesadaran atau pemikiran-pemikiran manusia terhadap potensi dirinya dan mencari kebenaran karna rasa ingin tahunya. 1. Perkembangan pemikiran Filsafat Spiritualisme Kuno Dari uraian diatas dapat diketahui filsafat mulai berkembang dan berubah fungsi, dari sebagai induk ilmu pengetahuan menjadi semacam pendekatan kembali sebagai ilmu pengetahuan yang telah berkembang pesat dan terpisah satu dengan lainnya. Jadi, jelaslah bagi kita bahwa filsafat berkembang sesuai perputaran zaman. Paling tidak, sejarah filsafat lama membawa manusia untuk mengetahui cerita dalam katagori filsafat spiritualisme kuno[18]. Ă Timur Jauh Di India berkembang filsafat Spiritualisme, Hinduisme, dan Budhisme. Sedangkan Jepang berkembang Shintoisme. Begitu juga di China, berkembang Toisme dan Komfusianisme[19]. Ă Timur Tengah Yang berkembang adalah di Yahudi dan Kristen. Ă Romawi danYunani Antromornisme Antromornisme merupakan suatu paham yang menyamakan sifat-sipat Tuhan dengan sifat-sifat manusia yang di ciptakan. Misalnya tentang tuhan di samakan dengan tangan manusia. Paham ini muncul zaman patristik dan skolastik, pada akhir zaman kuno atau zaman pertengahan filsafat barat di pengaruhi oleh pemikiran Kristian. 2. Reaksi Terhadap Spritualisme Di Yunani Spritualisme merupakan suatu aliran filsafat yang mementingkan kerohanian, lawan dari materialisme. Namun demikian, ternyata ada beberapa filosof yang merasa kurang puas dengan aliran spritualisme, mereka menganggap aliran ini tidak sesuai dengan ilmu pengetahuan ilmiah. Maka lahirlah aliran materialism. Diantara tokonya adalah Leukipos dan Demokritus 460-370 SM, yang menyatakan bahwa semua kejadian alam adalah atom, dan semuanya adalah materi[20]. Ă Idealisme Aliran ini memandang dan menganggap yang nyata hanyalah nyata. Nyata selalu tetap tidak mengalami perubahan dan pergeseran yang mengalami gerak tidak di kategorikan[21]. Ă Materialisme Mereka berpendapat bahwa kejadian seluruh alam terjadi karena atom kecil, yang menpunyai bentuk dan bertubuh, jiwa pun dari atom kecil yang mempunyai bentuk bulat dan mudah bereaksi untuk mengadakan gerak. Ă Rasionalisme Aliran rasionalisme memandang akal di anggap sebagai perantara khusus untuk menentukan kebenaran dalam ilmu pengetahuan. 3. Pemikiran Filsafat Yunani Kuno Hingga Abad Pertengahan Pada masa ini, keterangan-keterangan mengenai alam semesta dan penghuninya masih berdasarkan kepercayaan. Dan karena para filsuf belum puas atas keterangan itu, akhirnya mereka mencoba mencari keterangan melalui budinya. Oleh karena itu filsuf-filsuf berusaha mencari inti alam, maka mereka di sebut filsuf alam dan filsafat mereka disebut filsafat alam. Masa pra-socrates di warnai pula oleh munculnya kaum sofisme. 4. Pemikiran filsafat pendidikan menurut Socrates 470-399 SM Prinsip dasar pendidikan, menurut Socrates adalah metode dialektis. Meode ini di gunakan Socrates sebagai dasar teknis pendidikan yang di rencanakan untuk mendorong seseorang berpikir cermat, untuk menguji coba diri sendiri dan untuk memperbaiki pengetahuannya[22]. 5. Pemikiran filsafat pendidikan menurut Plato 427-347 SM Menurut Plato, idealnya dalam sebuah Negara pendidikan memperoleh tempat yang paling utama dan mendapatkan perhatian yang yang sangat mulia, maka ia harus di selenggarakan oleh Negara[23]. 6. Pemikiran filsafat pendidikan menurut Aristoteles 367-345 SM Pendidikan bukanlah soal akal semata-mata, melainkan soal memberi bimbingan kepada perasaan-perasaan yang lebih tinggi yaitu akal guna mengatur nafsu-nafsu. Akal sendiri tidak berdaya, sehingga ia memerlukan dukungan perasaan yang lebih tinggi agar di arahkan secara benar[24]. D. Perkembangan Filsafat Pendidikan Islam Perkembangan pendidikan Islam pada hakikatnya tidak terlepas dari sejarah Islam. Oleh sebab itu periodisasi sejarah pendidikan Islam itu sendiri. Secara garis besar Dr. Harun Nasution membagi sejarah Islam ke dalam tiga periode, yaitu periode klasik, pertengahan dan modern. Kemudian perinciannya dapat dibagi menjadi 5 masa[25], yaitu 1. Masa hidupnya Nabi Muhammad SAW 571-632 M. 2. Masa khalifah yang empat Khulafaur Rasyidin Abu Bakar, Umar, Usman dan Ali di madinah/632-661 M. 3. Masa kekuasaan Umawiyah di Damsyik 661-750 M. 4. Masa kekuasaan Abbasiyah di Bagdad 750-1250 M. 5. Masa dari jatuhnya kekuasaan khalifah di Bahdad tahun 1250 M sampai sekarang. Pembagian 5 masa di atas dalam kaitannya dengan periodisasi sejarah pendidikan Islam nampak sebagaimana diuraikan pada bagian kedua. Akan tetapi dalam kaitannya dengan kajian pendidikan Islam di indonesia, maka cakupan pembahasannya akan berkaitan dengan sejarah Islam di indonesia dengan fase-fase sebagai berikut[26] 1. Fase datangnya Islam ke Indonesia. 2. Fase pengembangan dengan melalui proses adaptasi. 3. Fase berdirinya kerajaan-kerajaan Islam proses politik. 4. Fase kedatangan orang Barat zaman penjajahan. 5. Fase penjajahan Jepang. 6. Fase Indonesia merdeka. 7. Fase pembangunan. Perkembangan pendidikan Islam yang terjadi di Indonesia secara periodisasi diungkapkan dalam uraian bagian ketiga. Dengan demikian periodisasi uraian tentang perkembangan Islam ini mencakup periode sejarah Islam yang terjadi dalam kawasan dunia Islam dan dalam kawasan Indonesia. Hal ini erat kaitannya dengan kepentingan studi atau kajian Islam di Indonesia. BAB III PENUTUP Latar belakang dari timbulnya filsafat pendidikan Islam karna banyaknya persoalan dan perubahan baru yang timbul didalam dunia pendidikan tersebut dan berusaha untuk menjawab serta memecahkanya, rasa ingin tahu, dan ditambahnya ide-ide baru dalam dunia pendidikan. Mulai dari masalah metode, pendekatan, komentar-komentar dll, karena filsafat berpikir dan mencari solusi untuk mengatasi masalah tersebut khususnya masalah didalam pendidikan Islam. Berkembangnya filsafat itu sendiri berkembang saat munculnya kesadaran atau pemikiran-pemikiran manusia terhadap potensi dirinya dan mencari kebenarannya. Ada pun pemikiran-pemikiran tersebut mulai dari pemikiran spiritualisme Kuno, Yunani, Yunani Kuno abad pertengahan, hingga para tokoh seperti Socrates, Plato, dan Aristoteles. Perkembangan pendidikan Islam yang terjadi di Indonesia secara periodisasi diungkapkan dalam uraian bagian ketiga. Dengan demikian periodisasi uraian tentang perkembangan Islam ini mencakup periode sejarah Islam yang terjadi dalam kawasan dunia Islam dan dalam kawasan Indonesia. Hal ini erat kaitannya dengan kepentingan studi atau kajian Islam di Indonesia. DAFTAR PUSTAKA Ă Arifin, Muzayyin. 2003. Filsafat Pendidikan Islam. Bandung Mizan IKAPI. Ă Jalaludin. 2013. Filsafat Ilmu Pengetahuan. Jakarta Rajawali Pers. Ă Jalaluddin, dan Abdullah Idi. 2011. Filsafat Pendidikan. Jakarta PT RajaGrapindo Persada. Ă Nata, Abudin. 2010. sejarah Pendidikan Islam. Jakarta PT RajaGrafindo Persada. Ă Rachman Assegaf, Abd. 2011. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta Rajawali Pers. Ă Taqi Mishbah, Muhammad. 2003. Buku Daras Filsafat Islam. Bandung Mizan IKAPI. Ă Zaprulkhan. 2014. Filsafat Islam Sebuah Kajian Tematik. Jakarta Rajawali Pers. Ă Zuhairini 2010. Sejarah Pendidikan Islam. Jakarta Bumi Aksara. [1]Muzayyin Arifin, Filsafat Pendidikan Islam, Bandung Mizan IKAPI, 2003, hlm. 3 [2]Jalaluddin, dan Abdullah Idi, Filsafat Pendidikan, Jakarta PT RajaGrapindo Persada, 2011, hlm 31 [3]Muzayyin Arifin, Filsafat Pendidikan Islam..., hlm. 9 [4]Muzayyin Arifin, Filsafat Pendidikan Islam..., hlm. 10 [6]Jalaluddin, dan Abdullah Idi, Filsafat Pendidikan..., hlm. 32 [7]Zaprulkhan, Filsafat Islam Sebuah Kajian Tematik, Jakarta Rajawali Pers, 2014, hlm. 156 [8]Abd. Rachman Assegaf, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta Rajawali Pers, 2011, hlm. 19 [9]Abd. Rachman Assegaf, Filsafat Pendidikan Islam..., hlm. 19 [10]Abd. Rachman Assegaf, Filsafat Pendidikan Islam..., hlm. 20-23 [11]Muhammad Taqi Mishbah, Buku Daras Filsafat Islam, Bandung Mizan IKAPI, 2003, hlm. 3-5 [12]Abudin Nata, sejarah Pendidikan Islam, Jakarta PT RajaGrafindo Persada, 2010, hlm. 156 [13]Jalaluddin, dan Abdullah Idi, Filsafat Pendidikan..., hlm. 33 [14]Zaprulkhan, Filsafat Islam Sebuah Kajian Tematik..., hlm 161 [15]Zaprulkhan, Filsafat Islam Sebuah Kajian Tematik..., hlm 167 [16]Jalaludin, Filsafat Ilmu Pengetahuan, Jakarta Rajawali Pers, 2013, hlm. 71 [17]Jalaludin, Filsafat Ilmu Pengetahuan..., hlm. 72 [18]Jalaluddin, dan Abdullah Idi, Filsafat Pendidikan..., hlm. 34 [19]Jalaluddin, dan Abdullah Idi, Filsafat Pendidikan..., 35-38 [20]Anas Salahudin, Filsafat Pendidikan, Bandung Pustaka Setia, 2011, hlm. 50 [21]Anas Salahudin, Filsafat Pendidikan..., hlm. 56 [22]Jalaluddin, dan Abdullah Idi, Filsafat Pendidikan..., hlm. 70 [23]Jalaluddin, dan Abdullah Idi, Filsafat Pendidikan...,hlm. 72 [24]Jalaluddin, dan Abdullah Idi, Filsafat Pendidikan...,hlm. 73 [25]Zuhairini, Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta Bumi Aksara, 2010, hlm. 7 [26]Zuhairini, Sejarah Pendidikan Islam..., hlm. 8
0% found this document useful 0 votes6K views8 pagesOriginal TitleLATAR BELAKANG MUNCULNYA FILSAFAT © All Rights ReservedAvailable FormatsDOCX, PDF, TXT or read online from ScribdShare this documentDid you find this document useful?0% found this document useful 0 votes6K views8 pagesLatar Belakang Munculnya Filsafat PendidikanOriginal TitleLATAR BELAKANG MUNCULNYA FILSAFAT to Page You are on page 1of 8 You're Reading a Free Preview Pages 5 to 7 are not shown in this preview. Reward Your CuriosityEverything you want to Anywhere. Any Commitment. Cancel anytime.